Saat itu telah tiba. Akhirnya aku jatuh cinta. Setelah sekian lama usia. Pada seorang pria tentunya. Seorang pria biasa. Entahlah darimana bermula. Cinta benar-benar tidak diduga. Aku dimana, dia dimana. Dipertemukan oleh nostalgia. Oleh sebaris kalimat tak bermakna.
Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskan kronologisnya. Cintaku lahir bukan dari sebuah kesan luar biasa. Bukan karena baik rupa. Bukan pula karena baik suara. Meskipun kenyataannya, dia memiliki keduanya. Entahlah, aku sendiri kadang masih tidak percaya. Jatuh cinta pada ini pria. Teman lama yang dulu kulirik pun tiada.
Dia tidak pernah mengejar si Dara. Tidak juga berusaha membuat kesan sempurna. Cintaku lahir dari perhatian dan kebutuhan teman bicara. Ketika tak seorang pun di dunia ini aku percaya. Ketika aku jenuh dengan penilaian dan bingkai sempurna dari sesama. Ketika aku muak dengan nasehat orang yang seolah paling memahami Dara. Ketika aku lelah menghindari kejaran pria-pria yang berusaha meninggalkan kesan sempurna. Ketika aku tak membutuhkan mulut selain telinga. Ketika semua itu membuatku gelisah dan insomnia. Dia hadir karena sebaris kalimat tak bermakna. Aku jatuh cinta bukan karena kesan luar biasa.
Sebelumnya, aku mengaku bahwa jatuh cinta membuat dilema. Kali ini, aku pun mengaku hal yang sama. Meski rasa sayang tumbuh seiring berjalannya masa, demikian pula halnya tanda tanya. Benarkah dia yang akan menjadi cinta pertama dan satu-satunya. Sebagaimana harapan si Dara. Tidak mudah menyatukan hati dan kepala. Tapi, setelah aku menjawab iya, kebimbangan, tanda tanya, entah kemana. Berganti perasaan lega dan bahagia. Ketika aku menemukannya, kami tak punya pilihan selain bersama. Dimana saja. Kapan saja.
Hal pertama yang ingin aku lakukan setelahnya adalah memberitahu dunia. Bahwa si Dara akhirnya jatuh cinta. Bukan untuk membuat kesan luar biasa, tapi supaya orang lain berhenti melakukan usaha. Entah, berusaha membuatku jatuh cinta. Atau berusaha menjodohkan dengan siapa saja. Juga supaya mereka berhenti mencibir dan menilaiku terlalu pemilih dan keras kepala. Meskipun, komentar seolah paling memahami si Dara masih terdengar di telinga.
Continue reading →