Dua wanita itu saling teriak tak peduli reaksi orang-orang di sekitar. Yang satu mengeluarkan kalimat-kalimat ancaman, yang satu lagi membalas tanpa kelihatan gentar. Suara mereka terdengar menggelegar. Bergema di sudut-sudut toilet dan membuat wanita-wanita lain bergeser. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan kedua wanita yang bertengkar. Tapi penasaran, setelah satpam dan seorang laki-laki separuh baya masuk melerai dan meminta mereka keluar.
Istri dan simpanan. Kata wanita di sebelahku yang juga mencuci tangan. Aku tersenyum tak ingin membicarakan. Tapi si ibu berbicara panjang lebar meski melihatku seolah tidak mendengarkan. Aku berlalu masih dengan senyuman.
Dalam diam dan jalan, aku bertanya-tanya dan berpikir. Mengapa hal-hal demikian dapat terjadi di sekitar. Mengapa para pria bisa ingkar. Ingkar pada janji setia ketika cinta masih bergetar. Benarkah sama sekali cinta remaja itu telah pudar. Digantikan oleh tubuh muda yang kelihatan lebih segar. Atau sejak semula tidak pernah ada cinta yang menjadi bahan bakar. Yang menyalakan mesin pernikahan dan mengabaikan segala perbedaan meskipun mendasar. Entahlah, aku belum bisa berkomentar.
Ini bukan kali pertama aku melihat pertengkaran. Di usia belasan, aku melihat seorang anak menyodorkan parang pada ayahnya yang punya simpanan. Dengan wajah garang tanpa ampun. Si Ibu berteriak-teriak sembari tersedu sedan. Saat itu benar-benar menegangkan. Sampai sekarang tak bisa kulupakan. Aku di usia remaja belum memahami sepenuhnya apa itu perselingkuhan.
Seiring bertambahnya usia dan berubahnya jaman, perselingkuhan pun semakin menjamur. Televisi kerap menayangkan peristiwa serupa kadang mendramatisir. Disisipi dengan nasehat para pakar. Sebagian berkomentar, istri harus pandai merawat diri supaya suami tidak suka pergi keluar. (Istri rupawan dan setia tidak juga dapat menjamin untuk tidak ingkar). Ada yang berkomentar, beri waktu buat suami bersenang-senang, nanti dia juga akan kembali ke sangkar. (Seandainya terjadi pada dia, aku tidak yakin dia akan punya komentar). Ada lagi komentar, beri perhatian pada suami, jangan suka mengatur.
Apa sesungguhnya yang dicari oleh petualang cinta hambar? Ya, hambar. Cinta yang dibangun di atas pasir. Yang sekarang ada, dan sebentar lagi tersapu air.
Apa sesungguhnya yang dicari para musafir? Apakah mereka belum menemukan air?