Surat itu sejak kemarin tergeletak di atas meja kerjaku. Surat ini lagi, gerutuku. Kenapa harus surat? Fthuhh..kuhempaskan napas berat, seberat kelelahan yang masih menempel di tubuhku. Percaya atau tidak, surat itu selalu datang pada tanggal dan bulan yang sama, dengan isi yang sama, tulisan yang sama dan ajaibnya amplop dan kertas yang sama. Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana si penulis surat itu melakukan semua ini. ”Kali ini aku tidak akan mengalah”. Kataku ke arahnya.
Dua hari berlalu..surat itu masih di sana.
”Halo?”
”Ka, udah dapat surat belum?”, balas suara orang di seberang tanpa basa basi.
”Ada berita apaan?” Jawabku santai tak menjawab pertanyaannya
”Udah dapat surat kan? Tidak mungkin tidak”. Balasnya juga tak menjawab pertanyaanku. Surat lagi surat lagi.
”Surat?”. Aku pura-pura tidak mengerti.
“Ka, aku tahu kamu ga menyukai surat itu Tapi surat kali ini berbeda. Aku mohon bacalah!”. Dan suara itu tiba-tiba terputus.
Apa lagi ini. Pokoknya tidak! Kali ini aku tidak mau membacanya. Aku tidak ingin…
Hari ketiga.
“Halo”
“Ka, udah baca suratnya belum?” tanpa basa-basi lagi.
“Hm..mm, Beritahu aja apa isinya.. Lebih baik aku mendengarnya darimu daripada harus membaca surat itu!” jawabku tidak tertarik.
“Ka, Aku mohon luangkan waktumu sebentar saja membaca suratnya!”
“Aku lagi banyak kerjaan nih,,,udah ya…”
”Ka..Ka..bentar…” suara itu menahan tanganku menutup telepon. ”Ka, yang ini berbeda. Kumohon bacalah! Kalau kamu tidak ingin menyesal seumur hidup!”.
Teet..terputus seperti biasa. Aku memandang telepon itu dengan wajah kesal dan marah. Apa-apaan ini! Kenapa dia jadi ikut-ikutan membuatku naik darah. Semua ini karena surat itu. Benar-benar membuat hidupku tidak damai. Lihatlah, surat itu membuatku bertengkar dengan Riko, satu-satunya keluarga yang kupercayai. Riko tahu betul bagaimana buruknya hubunganku dengan si surat. Tapi ancamannya tadi berhasil membuatku melirik surat itu lagi. Bagaimana kalau isinya memang berbeda? Bagaimana kalau akhirnya aku menyesal? Aku bertanya-tanya. Tidak! Tidak! Pokoknya kali ini aku tidak akan membacanya! Aku tidak mau…..!!! Teriakku dalam hati, menolak mendengarkan Rico. Bukankah selama ini, dengan alasan sama -takut menyesal, aku membaca surat itu. Dan pada akhirnya aku benar-benar menyesal. ”Pokoknya tidak! Tidak!”, kali ini aku benar-benar berteriak di dalam kamarku.
Seperti magnet raksasa yang menarik benda-benda logam apa saja yang didekatkan kepadanya, demikianlah surat-suratnya, membuatku tidak ingin berdekatan dengannya apalagi menyentuhnya. Seringkali aku meletakkannya beberapa hari di atas meja dan memandanginya. Namun, akhirnya aku akan membacanya dan lagi-lagi jengkel tidak karuan.
Permintaan penulis surat ini sangat sulit untuk kumengerti. Pulang? Kepulangan yang tidak pernah kurindukan. Berbeda dengan Riko. Sesekali aku mendengar mereka tertawa bersama. Tertawa? Kok bisa? Sementara, kepulanganku hanya untuk mendengarkan nyanyian burung hantu dari belakang rumah dan.. tarikan napasnya. Aku tersenyum pahit.
Kupandang wajahku di cermin. Wajah ibuku. Ibu? Aku termenung. Seandainya ibu masih ada, tentu aku tidak akan pernah menerima surat ajaib itu. Seandainya ibu yang menulis surat itu, akan aku buka dengan segera dan membacanya berulang-ulang. Seandainya… Ftiuhh, aku tersenyum pahit. Lagi.
Ibu meninggal ketika aku berumur tujuh tahun. Aku masih dapat mengingat dengan jelas peristiwa itu. Peristiwa yang membuat matahari terbenam di rumah kami. Hari itulah, hari terakhir ibu tersenyum padaku. Ibu menghembuskan napasnya yang terakhir sambil menggenggam tanganku dan tersenyum. Senyum yang selalu kuingat sampai saat ini. Sesudah itu aku juga tidak lagi melihat senyum laki-laki itu. Seolah senyumnya dibawa pergi oleh ibuku untuk menemaninya di alam sana.
Aku tumbuh menjadi remaja tanpa seorang ibu, juga tanpa ayah. Hanya Riko, saudaraku satu-satunya yang menyinari hidupku. Ketika aku mendapat haid pertamaku, aku histeris. Riko yang menenangkan aku bahkan membelikan aku pembalut wanita. Aku selalu tersenyum geli setiap mengingat kejadian itu. Dan kami akan tertawa bersama setiap mengulang kisah itu.
Tawaku menghilang setelah Riko memutuskan mengambil beasiswa untuk kuliah di pulau lain. Riko tahu berat bagiku melepas kepergiannya, juga berat baginya meninggalkan aku. Tapi, ”Demi hidup yang lebih baik Ka”, katanya padaku di suatu malam. Aku tak bisa berkata apa-apa selain menatapnya dengan mata berkaca-kaca memintanya mengurungkan niat.
Diam-diam aku menyimpan keinginan menyusul Riko dan segera meninggalkan rumah tanpa matahari ini dan laki-laki tua yang disebut ayah oleh Riko. Setelah lulus SMA tanpa ragu aku menyusul Riko pergi untuk melanjutkan studi, meskipun ternyata berbeda kota dengan Riko. Tapi tak mengapa, setidaknya tidak di sini, bersama laki-laki ini. Singkat cerita di sinilah aku sekarang, telah menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar dan terkenal. Bulan ini, aku dipromosikan untuk menduduki posisi penting di salah satu cabang di luar negeri.
Bunyi handphone yang tergeletak di atas meja kerjaku membuyarkan lamunanku. Dengan gontai aku melangkah dan meraihnya. Riko.
”Ada apa lagi kak?”
”Sudah baca suratnya belum?” tanya Riko tak sabar.
”Aduh, aku kan udah bilang, aku tidak akan membacanya. Ada apaan sih?” jawabku.
”Ayolah Ka, sebentar saja luangkan waktumu untuk membaca surat itu. Apa kamu ga percaya ama kakakmu ini? Percayalah, suratnya berbeda dari sebelumnya.” Jawab Riko memelas.
”Aduh, kerjaanku juga lagi banyak nih. Aku ga akan diizinkan cuti bulan ini. Aku ga bisa pulang” kataku ikut-ikutan memelas.
”Ka, aku janji ini terakhir kalinya aku memintamu membaca suratnya. Setelah surat ini, terserah apa yang akan kamu lakukan, mau bakar, sobek atau buang surat-surat itu sebelum membacanya, terserahmu. Tapi, kali ini, untuk terakhir kalinya. Aku mohon bacalah surat itu. Aku serius. Udah ya..dah!” terputus lagi tanpa menunggu jawabanku.
Untuk terakhir kalinya? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu sekarang? Aku terus berpikir sampai akhirnya tertidur. Aku terbangun dari tidurku ketika merasakan seseorang menyentuhku. Aku terkejut setengah mati dan mengucek-ngucek mataku.
”Ibu!! A..a..a…pa yang ibu lakukan di sini?” kataku terbata-bata, masih belum terima dengan penglihatanku.
Ibuku ada di dekatku, membelai kepalaku pula. Ibu hanya tersenyum. Senyum yang ditinggalkannya padaku. Dia terus membelai rambutku. Memandangiku dengan penuh kerinduan. Aku benar-benar belum bisa menghilangkan keterkejutanku –dan ketakutanku. Kupandang sekelilingku memastikan aku masih di kamarku. Ibuku lagi-lagi tersenyum sambil terus membelai rambutku. Setelah itu, perlahan-lahan sosoknya menghilang seperti asap lilin yang terbawa angin. Aku berteriak-teriak memanggilnya namun dia tidak kembali. ”Ibu!!!” aku berteriak keras. Aku keringatan, napasku tersenggal-senggal. Dan sekali lagi kupandang sekelilingku, tidak ada siapa-siapa. Aku bermimpi dan kali ini aku benar-benar terbangun.
Hari keempat.
Aku masih belum bisa melupakan mimpiku kemarin. Apa aku memang harus pulang? Pikirku dalam hati. Aku berjalan mondar-mandir di ruang kerjaku, di kamar, di taman dan aku belum menemukan keputusan. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Aku pulang karena ibu, kataku ke arah surat itu dengan cemberut. Kuraih dia, dan memasukkannya ke dalam koperku.
Aku harus menempuh perjalanan darat selama 4 jam dari ibukota provinsi ke kampung halamanku. Perjalanan yang mengocok perut karena jalannya yang berliku-liku. Aku duduk dengan tegang bukan karena wajah jalanan ini. Kalimat bosku, saat izin cuti serasa bergema di telinga sebelah kiriku. ”Karirmu dipertaruhkan di project ini Ka!”. Kalimat terakhir Riko bergema di telinga kananku. Belum lagi, isi surat yang seperti menerorku dan wajah ibu yang membayang-bayangiku. Apa yang terjadi sebenarnya? Bus mini yang kutumpangi bergoyang ke kanan ke kiri membuat penumpangnya muntah-muntah. Lengkaplah sudah, perjalanan ini benar-benar memuakkan.
Rumah itu tak berubah sejak setahun lalu. Bahkan sejak sepuluh tahun silam. Pemilik rumah ini tidak mau merenovasi rumahnya dengan alasan yang tidak kumengerti –aku memang tidak tahu. Mengapa juga mempertahankan rumah tua ini? Kalau soal biaya, dia tidak perlu khawatir. Sejak dulu Riko sudah menawarkan. Tapi, dia hanya diam dan menggelengkan kepala. ”Simpan saja untuk cucu-cucuku” samar-samar kudengar suaranya dari balik dinding kamarku suatu malam. Diam-diam ada rasa rindu yang menyeruak di dada. Bagaimanapun tempat ini meninggalkan kesan mendalam padaku. Meski tanpa matahari.
Drak.. Aku berhenti dari nostalgiaku. Seseorang membuka pintu rumah. ”Kartika!?” Riko menyapaku dengan keheranan. Aku tersenyum padanya kemudian memeluknya.
”Syukurlah, akhirnya kamu datang juga. Kita berangkat sekarang ya..” kata Riko. ”
Berangkat? Kemana?” aku kebingungan
”Ke Rumah Sakit.” jawab Riko. Rumah sakit?
“Nanti kamu akan tahu” Riko berbicara seolah mengerti apa yang aku pikirkan. Tiba-tiba saja aku sangat khawatir. Khawatir pada laki-laki itu, untuk pertama kalinya.
Riko membuka sebuah pintu kamar di salah satu sudut rumah sakit tua ini. Dia membiarkan aku masuk lebih dulu. Kuedarkan mataku sejenak dan terbentur pada sosok rapuh di pembaringan. Riko menganggukkan kepalanya padaku entah bermaksud apa. Mungkin untuk meyakinkanku kalau kami tidak salah kamar. Jantungku berdebar lebih kencang, dan kakiku goyah seolah tidak kuat lagi mengangkat tubuhku. Apa yang terjadi pada laki-laki ini? Selama beberapa lama aku hanya terpaku di tempatku dan menatapnya. Dia sedang tertidur.
Tiba-tiba dia membuka mata, perlahan. Aku terkejut. Dan beberapa saat kami hanya saling berpandangan. Riko menawarkan tempat duduk padaku.
”Tidak usah. Aku di sini saja.” kataku sambil berjalan ke arah jendela.
”Kartika” laki-laki itu memanggilku dengan suara perlahan. Ini untuk pertama kalinya dia memanggil namaku, setelah kematian ibuku. Aku menoleh kepadanya. Enggan mendekat.
”Kemarilah” pintanya
Dengan langkah berat kuturuti keinginannya. Dia tak berkata-kata lagi, hanya memandangiku, membuatku merasa risih.
”Ma..a..f..” sambungnya terbata-bata dengan sisa-sisa tenaga.
Kemudian mata tua itu perlahan tertutup dan dia tersenyum padaku, seperti senyum ibuku saat itu. Senyum pertama dan terakhir padaku setelah puluhan tahun. Aku melongo di tempat dudukku. Samar-samar kudengar isak Riko di sebelahku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku hanya membisu dan terus membisu sampai jenazahnya disemayamkan di sebelah ibuku.
Aku masih membisu di dalam kamarku. Kupandangi surat itu berjam-jam dengan tatapan kosong. Kali ini aku tidak mau membacanya karena aku tidak berani mengetahui apa isinya. Dengan tangan gemetaran, akhirnya aku meraih surat itu. Jantungku berdebar-debar. Tulisan ini sangat akrab di mataku. Namun, tekanan dan coretannya tidak serapih surat-surat sebelumnya, seolah menandakan penulisnya ketika itu kesulitan menulis kata demi katanya.
Ayah memberimu nama Kartika. Karena ketika ibumu mengandungmu, dia suka sekali melihat bintang. Semalam-malaman dia bisa tahan memandang bintang-bintang sambil berbicara padamu. Akhirnya engkau lahir, ibumu bahagia sekali. Ayah juga. Ayah masih ingat bagaimana reaksinya ketika kuusulkan nama Kartika buatmu. Dia melonjak kegirangan, sambil berkata ”Tepat sekali, tepat sekali”. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibumu sakit parah. Penyakit apa itu, ayah tidak tahu. Yang ayah tahu, ayah tidak mampu membiayai pengobatan ibumu. Kartika, kau mewarisi wajah ibumu. Tentu kau senang dengan hal itu. Siapa yang mau mewarisi wajah ayah sepertiku. Wajah itulah yang membuatku menjauhimu. Seolah aku sedang melihat ibumu setiap kali memandangmu, dan itu membuat ayah merasa bersalah. Ayah telah mendapat hukuman dengan tidak mendapat kasih sayangmu. Setelah Riko pergi, ayah tahu kamu sedih luar biasa. Ayah ingin sekali mengobrol denganmu, tapi rasanya janggal sekali. Ayah selalu berkata dalam hati, belum waktunya..belum waktunya….sampai akhirnya ayah tidak mampu lagi mengubah sikap ayah padamu dan menyadari tahun demi tahun telah berlalu. Setelah kepergianmu, rumah ini benar-benar gelap gulita. Ayah merindukan kalian. Tiga puluh dua tahun yang lalu, aku menikahi ibumu. Pulanglah nak, mungkin ini terakhir kita bertemu…
Aku menangis meraung-raung dan sesekali berteriak seperti orang hilang akal. Aku terus menangis, sampai mataku lelah dan bengkak. Dengan pandangan nanar kuraih surat itu lagi dan melihat tanggalnya, 5 Juli.