Belum Ada Judul

BAGIAN PERTAMA

16 Feb 2010

Nadia!! Buruan, ntar kita terlambat!! Teriakan membahana di rumah bercat biru tua. Membuat yang punya nama buru-buru menuruni anak tangga. “Iya ma..ini juga udah turun” “Lama amat sih. Katanya tadi malas ikutan. Eh, dandannya malah lama” komentar si mama. Aku hanya terdiam. Dandan? Fthuh.. Aku lama berpikir untuk membatalkan atau tidak ikut mama kok. Dalam hati aku ngedumel. Aih, kalau bukan karena paksaan mama, aku tidak akan mau ikut. Acara ini pasti membosankan. Pertanyaannya pasti ga jauh-jauh dari “Kapan undangannya Nad?”. “Ayo dunk Nad. Tunggu apa lagi” “Siska malah udah punya anak dua”. Haiya…..aku bosan!!! Aku mengepalkan tangan dan menghempaskannya dengan kesal di setir yang tak berdosa.

“Ada apa Nad?” Mama bertanya keheranan

“Oh, ga ada apa-apa ma. Aku hanya kesal ama pengendara motor yang tiba-tiba nyelip.” jawabku berdalih.

“Ga usah buru-buru. Yang penting sampai dengan selamat” kata si mama sambil merapikan make-upnya.

Kuiyakan nasehatnya dengan menarik napas panjang. Basa basi sana sini. Sapa sana sini. Senyum sana sini. Setelah aku merasa cukup, aku meninggalkan mamaku yang sedang asyik becanda dengan teman arisannya. Sebelum tante A, B, C, D memberikan daftar nama-nama pria yang mencari istri, aku harus segera angkat kaki. Cabut. Kabur. Melarikan diri. Sembunyi. Ya, dan kata lain yang dapat mewakilinya.

Tak sulit menemukan tempat untuk itu di hotel mewah ini. Kafe buku mungil terlihat di sudut kiri. Kuarahkan langkahku tanpa ragu lagi. Beberapa pengunjung melirik. Mungkin mereka berpikir kok bisa pengantin terlihat di kafe buku saat resepsi pernikahannya, pikirku nakal. Aku senyum-senyum sendiri. Lumayan juga koleksi buku di kafe ini. Kuraih sebuah majalah sebagai bacaan ringan dan memesan secangkir mochacino. Hm..tak ada titik favorit yang bisa kutemukan. Sudut yang menghadap ke jendela kaca sudah terisi. Kecuali aku rela berbagi. Kepalang tanggung.

“Boleh aku duduk di sini?” tanyaku ramah pada penghuni sudut Barat.

Ada kolam mini di sebelahnya. Dia mengangkat wajah ke arah suara. Sekilas mengamatiku kemudian meneruskan bacaannya. Sedikit ragu aku mendaratkan pantatku di kursi di hadapannya. Aku meliriknya sejenak untuk memastikan bahwa dia tidak keberatan berhadapan dengan ‘pengantin’ pelarian.

“Aku tidak mengiyakan permintaanmu” kata pria itu dingin beberapa menit kemudian.

Sontak aku tersedak ketika menyeruput mochacino yang baru nongol. Sedikit cipratannya mengenai kebaya putihku.

“Ow. Okay” aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut. “Hmm..tak ada tempat lagi selain di sini. Apakah seseorang sudah atau akan menduduki kursi ini?” Aku mencoba memahami situasi.

“Bukan urusan Anda” jawabnya pula. Dingin. Ketus.

Apa? Baik-baik ditanya kok jawabnya demikian. Aku tak habis pikir.

“Hmm..kalau begitu aku akan tetap di sini. Anda tidak membantuku. Dan..rasanya tidak ada tanda nama di kursi ini. Berarti bebas diduduki siapa saja bukan?” Jawabku tidak terima.

Dia memandangku, akhirnya, dengan tajam sembari menutup bukunya. Aku memandangnya pula dengan kesal.

“Aku tak akan pergi” kataku melunak. Meskipun sesungguhnya aku telah kehilangan selera. Untuk menghabiskan mochacino. Untuk mendengarkan gemericik air kolam mini. Untuk membaca majalah. Untuk duduk di dekat pria aneh ini. Untuk kabur. Ma, ngobrolnya udah selesai belum? Boleh kita pulang?

Kami masih beradu pandang. Seolah siapa yang akhirnya mengalihkan pandangan berarti kalah dan harus menyingkir. Kenapa aku merasa mata itu menyimpan luka?

“Baiklah. Aku akan pergi. Lain kali tolong tuliskan nama pemesan kursi ini” kataku perlahan sembari angkat tumit dari tatapan tajamnya.

Dengan bersungut-sungut aku menuju tempat parkir. Mobil lebih hangat daripada pria ini. Fthuhh…

 ——

“Kemana aja tadi Nad. Tante Rani nyariin tuh” mama mencairkan kebekuan perjalanan.

“Maaf ma, aku sedang tidak ingin mendiskusikan apa pun” jawabku.

Kebisuan menemani perjalanan pulang kami. Sementara itu, di kafe buku.

“Saya kan sudah bilang, kursi itu tidak boleh ditempati!“

“Maaf pak, tadi saya tidak keburu mencegah karena kebetulan kafe rame. Maafkan saya pak. Lain kali saya akan perhatikan.”

Pria yang dipanggil pak itu menarik napas panjang. “Ya, sudah. Kamu dapat kembali bekerja” perintahnya.

Beberapa pengunjung masih terlihat asyik dengan bacaannya. Pria dekat kolam mini, termenung memandang ulah ikan-ikan kecil di kolam itu.

BAGIAN DUA

17 Feb 2010

Aku berlari sekencang-kencangnya melewati lorong-lorong rumah sakit. Tujuanku cuma satu, menuju kamar paling ujung setelah belok kiri. Ketika aku mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka itu, aku menjatuhkan kedua lututku ke lantai. Aku terisak. Sangat terisak. Seorang wanita separuh baya keluar dari pintu itu. Matanya sembab. Sedikit keheranan dia menatap ke arahku.

“Tante..” aku menyapa lirih Tante Riska memelukku haru.

“Bagaimana keadaannya?” Terbata aku bertanya.

Tante Riska tidak menjawab. Bersama kami terisak dalam pelukan. Tubuhnya kaku tak bergerak. Napasnya terdengar sangat lemah. Aku memandanginya dengan badan bergetar dan linangan air mata. Dalam isakan tertahan yang sangat menyesakkan. Aku seperti bermimpi. Lebih tepatnya aku ingin ini hanya mimpi. Nafasnya terdengar semakin perlahan. Dan akhirnya tidak pernah kembali. Tante Riska pingsan. Tangisan pun semakin ramai terdengar. Aku masih berdiri. Melongo. Di sisi pembaringan. Menatap wajah sahabatku yang memucat. Arya!!! Aku berteriak dan menemukan diriku terjaga dari tidur.

Mimpi itu lagi. Aku mengatur napas sambil memandangi langit-langit kamarku. Dua tahun sudah setelah kepergian Arya. Aku pikir waktu akan menelan nestapa. Namun, aku belum bisa menghapus air mata. Aku belum bisa melupakan Arya. Arya adalah sahabatku. Aku mengenalnya sejak popok menjadi pakaian wajib kami. Ketika air liur meleleh tak karu-karuan. Kami belajar berjalan bersama. Berebut botol susu, mobil-mobilan, dan apa saja yang menarik perhatian kami. Kami saling mengerti ketika orang dewasa tidak mengerti apa yang kami inginkan. Setiap hari, kami melewati eucalyptus yang juga bertambah tinggi sebagaimana kami, setiap berjalan ke sekolah. Kami akan berlomba siapa yang lebih dahulu menyentuh pintu kelas. Kami pun berlomba untuk jadi juara. Dan tentu saja Arya tak terkalahkan.

Ketika aku berusia 10 tahun, ayah ibuku bercerai. Malam-malam sebelumnya kerap aku mendengar pertengkaran mereka. Teriakan-teriakan mereka. Aku pun akan sembunyi di bawah selimut dan menyanyikan lagu yang diajarkan Arya. Aku akan menyanyikannya entah kali keberapa.

Malam gelap lindungi aku

Aku ingin tidur dengan lelap

Bintang-bintang terangiku

Aku pun tenang dan terlelap

Arya selalu membuatku tertawa. Dia seolah tahu aku sedang gulana. Dia seolah tahu aku sedang berduka. Dan tak pernah disinggungnya kenapa. Dia hanya mencoba membuatku tertawa. Dan usahanya tak pernah sia-sia. Ibunya adalah pengasuhku sewaktu balita. Aku lebih menganggapnya ibu daripada bunda. Ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Arya dan ibunya tidak pernah keberatan akan kehadiranku di tahun-tahun selanjutnya. Mereka selalu menyambut gembira.

Arya tumbuh menjadi pemuda. Banyak wanita yang memujanya. Kerap mereka menitipkan padaku salam untuk Arya. Kadang-kadang coklat berbagai rupa. Bahkan pernah benda kecil berharga. Awalnya, mereka pikir kami ada apa-apanya. Tapi, setiap itu pula, Arya akan tertawa dan mengacak rambutku di hadapan pemuja-pemujanya. “Dia sudah seperti adik bagiku” ujarnya. Dan aku, gadis pemalu, diam-diam terluka.

Ya. Entah kenapa aku tidak suka jika dia hanya menganggapku adik belaka. Dan untuk per tama kalinya dalam hidupku, aku merasa sangat menderita. Aku tidak ingin ada orang lain yang diperhatikan oleh Arya, selain Nadia. Aku selalu ingin bersama Arya. Aku tidak suka melihatnya bersama wanita lain pula. Tak pernah aku merasakan hal demikian ke lain pria. Tiada selain Arya.

Pasca perceraian orangtuaku, aku tidak yakin akan menikah dengan pria. Tapi, Arya membuatku percaya. Akhirnya aku jatuh cinta pada seorang pria. Namun, tak sedikitpun dia tahu tentang itu semua. Karena aku menyimpannya dengan sempurna. Tak seorang di dunia ini tahu pula. Tiada, selain aku dan hati Nadia.

Aku tahu kalau dia mencintai seorang wanita. Ketika menyeruput mocachino hangat sepulang kerja, matanya bercerita. Binar seperti ini belum pernah kulihat di mata Arya. Tidak juga ketika dia berhasil menjadi juara. Aku mendengarkannya dengan mataku, tapi hatiku entah kemana. Sesekali aku tersenyum dan mengangguk-angguk seolah mengerti maksudnya. Padahal aku sibuk menentramkan gelora. Kecewa. Luka. Hari itu dia berniat untuk mengungkapkan perasaannya.

“Aku akan memperkenalkannya padamu Nad” serunya sembari berlari ceria.

“Ok. Ku tunggu Ya. Hati-hati!” Jawabku pura-pura bahagia.

Tidak disangka, itu adalah lambaian tangan terakhir Arya. Setelahnya aku berlari ke rumah sakit sekencang yang aku bisa. Dan aku tidak menemukan binar matanya. Aku tidak akan mengenal wanita yang dicintainya. Tidak ada lagi yang akan membuatku tertawa. Tidak ada lagi pria dalam hidup Nadia. Perlahan aku bersenandung lagu Arya. Aku tak juga pejamkan mata. Malam itu aku terjaga sampai fajar menyilaukan mata. bersambung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s