sepatu perjalanan

aku tidak pernah ingat di usia berapa aku bisa berjalan
aku juga lupa bagaimana pelajaran berjalan
aku hanya tahu aku harus berjalan
dengan demikian aku bisa meraih mainan di luar jangkauan tangan
merasakan kemanusiaan
kemandirian
kebebasan
kelelahan

aku tahu, sepatu adalah pasangan berjalan yang sepadan
jumlahnya kini mungkin sudah mencapai puluhan
mereka mengawal kakiku ketika melewati bebatuan
silih berganti mereka mengambil peran
dan membuat perjalanan menyenangkan
mereka bisa menyebalkan demi kaki terlihat menawan
mereka juga bisa membuatku merasa yakin
untuk berhenti atau terus berjalan

sepatu dan berjalan tak dapat dipisahkan
mereka akan meninggalkan jejak yang terhapuskan
jejak-jejak bersama teman seperjalanan
tapi kenangan yang ditinggalkan tak mudah dilupakan
dan lagi, tidakkah berjalan tanpa sepatu terasa menyakitkan?

Advertisements

Belum Ada Judul

BAGIAN PERTAMA

16 Feb 2010

Nadia!! Buruan, ntar kita terlambat!! Teriakan membahana di rumah bercat biru tua. Membuat yang punya nama buru-buru menuruni anak tangga. “Iya ma..ini juga udah turun” “Lama amat sih. Katanya tadi malas ikutan. Eh, dandannya malah lama” komentar si mama. Aku hanya terdiam. Dandan? Fthuh.. Aku lama berpikir untuk membatalkan atau tidak ikut mama kok. Dalam hati aku ngedumel. Aih, kalau bukan karena paksaan mama, aku tidak akan mau ikut. Acara ini pasti membosankan. Pertanyaannya pasti ga jauh-jauh dari “Kapan undangannya Nad?”. “Ayo dunk Nad. Tunggu apa lagi” “Siska malah udah punya anak dua”. Haiya…..aku bosan!!! Aku mengepalkan tangan dan menghempaskannya dengan kesal di setir yang tak berdosa.

“Ada apa Nad?” Mama bertanya keheranan

“Oh, ga ada apa-apa ma. Aku hanya kesal ama pengendara motor yang tiba-tiba nyelip.” jawabku berdalih.

“Ga usah buru-buru. Yang penting sampai dengan selamat” kata si mama sambil merapikan make-upnya.

Continue reading

Surat

Surat itu sejak kemarin tergeletak di atas meja kerjaku. Surat ini lagi, gerutuku. Kenapa harus surat? Fthuhh..kuhempaskan napas berat, seberat kelelahan yang masih menempel di tubuhku. Percaya atau tidak, surat itu selalu datang pada tanggal dan bulan yang sama, dengan isi yang sama, tulisan yang sama dan ajaibnya amplop dan kertas yang sama. Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana si penulis surat itu melakukan semua ini. ”Kali ini aku tidak akan mengalah”. Kataku ke arahnya.

Dua hari berlalu..surat itu masih di sana.

”Halo?”

”Ka, udah dapat surat belum?”, balas suara orang di seberang tanpa basa basi.

”Ada berita apaan?” Jawabku santai tak menjawab pertanyaannya

”Udah dapat surat kan? Tidak mungkin tidak”. Balasnya juga tak menjawab pertanyaanku. Surat lagi surat lagi.

”Surat?”. Aku pura-pura tidak mengerti.

“Ka, aku tahu kamu ga menyukai surat itu Tapi surat kali ini berbeda. Aku mohon bacalah!”. Dan suara itu tiba-tiba terputus.

Apa lagi ini. Pokoknya tidak! Kali ini aku tidak mau membacanya. Aku tidak ingin…

Continue reading

Tak Ingin Berjauhan

Aku yakin bahwa setiap orang yang saling mencintai tidak ingin berjauhan. Tapi kadang tak ada banyak pilihan. Pilihannya hanya tidak dan memilih orang lain. Atau ya, dan memilih berjauhan. Jika cinta sudah menguasai hati dan pikiran, rasanya tidak mungkin menanti orang lain. Jika cinta sudah menguasai hati dan pikiran, segala rintangan seolah terabaikan. Termasuk konsekuensi berjauhan.

Rindu adalah konsekuensi utama berjauhan. Dua orang yang saling mencintai seolah tak ingin terpisahkan. Mereka ada untuk saling mengisi kekosongan. Saling mengisi kesepian. Saling mengisi kekurangan. Dalam pengertian akan ketidaksempurnaan. Dan mereka seolah penuh, terhibur, dan berkelimpahan ketika bertatapan.

Meskipun di jaman sekarang ada banyak fasilitas yang dapat membantu kebutuhan pasangan yang berjauhan, rindu hanya bisa diselesaikan oleh pertemuan. Sejernih apapun suara yang kamu dengar, sejelas apapun layar yang kamu lihat, sesering apapun kamu bertukar kabar, rindu hanya bisa diselesaikan dengan pertemuan.

Tapi, kadang tak ada banyak pilihan. Semakin jauh jarak yang memisahkan, semakin terbatas kemungkinan. Menahan rindu adalah makanan keseharian. Kekosongan seolah naik ke permukaan. Rindu hanya bisa diselesaikan ketika bertatapan.

Kelak kebersamaan akan menjadi milik pasangan yang berjauhan. Rindu tak lagi menjadi makanan keseharian. Mereka akan merasa penuh dan berkelimpahan. Karena dimengerti dalam ketidaksempurnaan. 

Sesungguhnya, aku tak ingin berjauhan. Rinduku sungguh tak tertahankan.

Dia atau dia?

Dua wanita itu saling teriak tak peduli reaksi orang-orang di sekitar. Yang satu mengeluarkan kalimat-kalimat ancaman, yang satu lagi membalas tanpa kelihatan gentar. Suara mereka terdengar menggelegar. Bergema di sudut-sudut toilet dan membuat wanita-wanita lain bergeser. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan kedua wanita yang bertengkar. Tapi penasaran, setelah satpam dan seorang laki-laki separuh baya masuk melerai dan meminta mereka keluar.

Istri dan simpanan. Kata wanita di sebelahku yang juga mencuci tangan. Aku tersenyum tak ingin membicarakan. Tapi si ibu berbicara panjang lebar meski melihatku seolah tidak mendengarkan. Aku berlalu masih dengan senyuman.

Dalam diam dan jalan, aku bertanya-tanya dan berpikir. Mengapa hal-hal demikian dapat terjadi di sekitar. Mengapa para pria bisa ingkar. Ingkar pada janji setia ketika cinta masih bergetar. Benarkah sama sekali cinta remaja itu telah pudar. Digantikan oleh tubuh muda yang kelihatan lebih segar. Atau sejak semula tidak pernah ada cinta yang menjadi bahan bakar. Yang menyalakan mesin pernikahan dan mengabaikan segala perbedaan meskipun mendasar. Entahlah, aku belum bisa berkomentar.

Continue reading

Pengakuan Dara (Saat Itu Telah Tiba)

Saat itu telah tiba. Akhirnya aku jatuh cinta. Setelah sekian lama usia. Pada seorang pria tentunya. Seorang pria biasa.  Entahlah darimana bermula. Cinta benar-benar tidak diduga. Aku dimana, dia dimana. Dipertemukan oleh nostalgia. Oleh sebaris kalimat tak bermakna.

Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskan kronologisnya. Cintaku lahir bukan dari sebuah kesan luar biasa. Bukan karena baik rupa. Bukan pula karena baik suara. Meskipun kenyataannya, dia memiliki keduanya. Entahlah, aku sendiri kadang masih tidak percaya. Jatuh cinta pada ini pria. Teman lama yang dulu kulirik pun tiada.

Dia tidak pernah mengejar si Dara. Tidak juga berusaha membuat kesan sempurna. Cintaku lahir dari perhatian dan kebutuhan teman bicara. Ketika tak seorang pun di dunia ini aku percaya. Ketika aku jenuh dengan penilaian dan bingkai sempurna dari sesama. Ketika aku muak dengan nasehat orang yang seolah paling memahami Dara. Ketika aku lelah menghindari kejaran pria-pria yang berusaha meninggalkan kesan sempurna. Ketika aku tak membutuhkan mulut selain telinga. Ketika semua itu membuatku gelisah dan insomnia. Dia hadir karena sebaris kalimat tak bermakna. Aku jatuh cinta bukan karena kesan luar biasa.

Sebelumnya, aku mengaku bahwa jatuh cinta membuat dilema. Kali ini, aku pun mengaku hal yang sama. Meski rasa sayang tumbuh seiring berjalannya masa, demikian pula halnya tanda tanya. Benarkah dia yang akan menjadi cinta pertama dan satu-satunya. Sebagaimana harapan si Dara. Tidak mudah menyatukan hati dan kepala. Tapi, setelah aku menjawab iya, kebimbangan, tanda tanya, entah kemana. Berganti perasaan lega dan bahagia. Ketika aku menemukannya, kami tak punya pilihan selain bersama. Dimana saja. Kapan saja.

Hal pertama yang ingin aku lakukan setelahnya adalah memberitahu dunia. Bahwa si Dara akhirnya jatuh cinta. Bukan untuk membuat kesan luar biasa, tapi supaya orang lain berhenti melakukan usaha. Entah, berusaha membuatku jatuh cinta. Atau berusaha menjodohkan dengan siapa saja. Juga supaya mereka  berhenti mencibir dan menilaiku terlalu pemilih dan keras kepala. Meskipun, komentar seolah paling memahami si Dara masih terdengar di telinga.

Continue reading

Selamat Tinggal Juli

Aku benci Juli. Dia meninggalkan luka di hati. Tak terperi. Mungkin mudah baginya untuk meninggalkan aku dalam isak dan sepi. Tanpa memberikan aku kesempatan untuk membela diri. Juli membiarkanku dalam amarah dan dengki. Menelantarkanku dalam emosi yang sulit dipahami. Membuatku lupa arti mengampuni.

Kamu dengar itu Juli? Kamu membuatku lupa arti mengampuni. Satu-satunya tempatku bersembunyi selama ini. Dari luka hati tak terperi. Dari amarah dan dengki. Dan sekarang aku tak tahu lagi. Bagaimana aku menenangkan diri.

Aku benci Juli. Karena dia ingkar janji. Membuat malamku tanpa mimpi. Suaraku tanpa melodi. Mataku tanpa pelangi. Mengapa dia seolah tak mau mengerti. Meski aku telah memohon berkali-kali. Supaya dia memperbaiki diri. Tapi, semuanya memuai.

Aku benci Juli. Karena dia bermain api. Mencicipi kenikmatan duniawi. Aku tahu kadang Juli menolak sama sekali. Namun godaan duniawi terlalu menawan dan memesona Juli. Dan akhirnya dia tak tahu jalan kembali. Aku seolah tak mengenalnya lagi. Juli ternyata tak sebaik penilaianku selama ini. Kemana Juli yang kucintai? Atau inikah sebenarnya Juli? Bagaimana aku membawanya kembali? Tempat sembunyi, masihkan ada ruang bagi Juli? Lagi.

Benarkah aku membenci Juli? Atau aku memang harus membenci Juli? Aku tak diberi pilihan lain lagi. Tapi, aku tak bisa terus begini. Aku tak ingin Juli ini. Aku harus pergi. Aku memutuskan pergi. Meninggalkan semua luka hati. Meninggalkan semua emosi yang sulit dipahami. Meninggalkan isak dan sepi. Di tempatku bersembunyi.

Selamat tinggal Juli. Aku tak akan kembali.

Persimpangan Perjalanan

Lagi-lagi aku berada di persimpangan
dan kesulitan memutuskan arah perjalanan
lagi-lagi sepatu cokelat tidak memberikan aku jawaban
kenapa belakangan ini dia terlihat tidak perhatian

Ayolah sepatu cokelat, jangan biarkan aku tertawan
tidak biasanya kamu demikian
apakah aku terlalu memaksakan
atau diammu adalah jawaban

Kamu masih ingat caranya bukan?
ketukkan ujung sepatumu untuk salah satu pilihan
sekarang hanya ada dua pilihan
kita pernah mengalami yang jauh membingungkan
seharusnya, lebih mudah memutuskan

Ayolah sepatu cokelat, jangan biarkan aku tanpa tujuan
aku tak ingin lebih lama di persimpangan
atau aku harus memutuskannya sendirian?
asal kamu siap untuk perjalanan tak menyenangkan

Sepatu Cokelat tak akan Terganti

Aku salah memilih sepatu lagi. Biasanya tak begini. Aku kenal si kaki. Tapi, kenapa aku bisa salah lagi. Sebulan lalu kupilih sepatu hitam dengan garis-garis merah di area jari. Tapi jarang sekali aku pakai. Haknya terlalu tinggi. Membuat pegal kaki. Kalau sangat terpaksa baru kupakai. Untuk membuat terlihat lebih tinggi. Dan untuk apa lagi. Aku merasa cukup tinggi. Mengapa aku tidak berpikir panjang sewaktu melihatnya pertama kali. Waktu itu, aku juga lama mencari-cari. Coba sana sini. Membandingkan kanan kiri. Dan akhirnya memilih sepatu hitam dengan garis-garis merah ini. Aku jadi sadar, kadang merek terkenal hanya berat di nilai.

Bulan ini aku memilih warna khaki. Aku sangat suka warna ini. Modelnya sederhana dan menarik hati. Pertama aku mencobanya, tak ingin coba yang lain lagi. Aku langsung jatuh hati. Tapi, ternyata aku salah lagi. Kakiku lecet baru memakainya dua kali. Padahal aku telah memastikan sebelumnya kalau dia akan nyaman di kaki. Aku mencobanya dengan berjalan selama 10 menit sebagaimana tips dari para ahli. Tak peduli penjualnya mengamati. Tapi, kenapa setelah dibawa kemari, dia berulah seperti ini. Kakiku menolak memakainya lagi. Kulirik nama terkenal pembuatnya dan menggerutu dalam hati.

Continue reading

Aku Sangat Cemburu!

aku merindukan saat-saat itu
ketika tak ada nama selain namaku
tak ada tawa sehangat tawaku, buatmu
matahari seolah enggan berlalu tanpa sapaanmu.
dan bintang seakan temaram tanpa tatapanmu

aku tahu bahwa hatiku bukan untukmu
entahlah pada siapa tertuju.
bukan padamu, kala itu
tapi aku mau sapaanmu selalu mengawali pagiku
dan salammu menutup malamku

aku tak ingin ada nama lain selain namaku
aku tak ingin tawa lain mencuri telingamu
aku tak ingin kehilangan bintangku
aku tak ingin matahari cepat-cepat berlalu
meski aku tahu hatiku bukan untukmu

aku..aku..aku..

bagaimana bisa kamu tahan menghadapiku
yang hanya tahu tentang aku
bagaimana bisa kamu merindunya setiap waktu
yang hanya bicara tentang aku aku aku

kamu tahu bahwa hatiku bukan untukmu
hatiku milik hatiku
ayolah, tinggalkan aku
yang tak mau tahu tentangmu
dan kamu setuju

tapi, malam ini aku sangat cemburu
karena bintangku punya nama baru
seolah matahari tak bersinar untukku
dan malam tak berpihak padaku

Lagi-lagi harapku
tak ingin ada nama lain selain namaku
tak ingin tawa lain mencuri telingamu
tak ingin kehilangan bintangku

benarkah hatiku milik hatiku?

Batwoman

Aku mau baju seperti itu! Masa yang dibeliin dia mulu! Aku menggerutu di hadapan ibuku. Itu kurang cocok buat anak perempuan, jawab si ibu. Pokoknya aku mau!! Rengekku. Dan menuju sudut pintu. Cemberut dalam gerutu.

Sejak kemarin, aku cemburu. Adik laki-lakiku satu-satunya memamerkan baju baru. Baju yang punya jubah hitam itu. Sangat terkenal di zaman kecilku. Setiap anak sepertinya punya, setidaknya satu. Memang tidak berjubah hitam melulu. Ada merah dan biru. Sesuai jagoan yang ditiru. Aku sangat suka baju berjubah hitam itu. Rasanya berar-benar seperti jagoan idolaku.

Tapi, kenapa aku tidak bisa memilikinya, setidaknya satu. Apa maksud ibu kalau baju itu kurang cocok untukku. Seandainya ibu belikan untukku, aku janji tidak akan meminta baju tahun baru. Adikku melewatiku dan jubah hitamnya berkibar tertiup angin yang berhembus dari pintu. Ibu!! Aku mau baju dengan jubah hitam itu!! Dalam hati aku berseru.

Continue reading